La Decima Dan Lewandowski

By Raynald Andreas, Kamis, 25/04/2013 14:01
36lddl.jpg

Tiada seorangpun yang saya yakini berani bertaruh kalau duo raksasa Spanyol Barcelona dan Real Madrid akan menanggung malu begitu besar dalam dua laga leg awal semi final Champions League kemarin. Skor 4-0 untuk Bayern Muenchen dan 4-1 untuk Borussia Dortmund dengan jelas mencerminkan revolusi yang mungkin akan terjadi beberapa tahun atau saat ke depan terlepas dari berapapun hasil yang akan mereka raih di leg ke 2 minggu depan.

Lupakan sejenak Barcelona dan Messi yang dikebiri oleh The Bavarians dengan beberapa keputusan kontroversial dari wasit. Saya pribadi memang lebih menjagokan Real Madrid ketimbang ketiga tim tersisa. Mungkin sejarah berkata Barcelona, mungkin performa belakangan ini menjagokan Bayern Muenchen, mungkin underdog seperti Dortmund mampu keluar sebagai juara seperti Chelsea musim lalu, tetapi Real Madrid dengan target “La Decima” atau gelar ke sepuluh Champions League saya yakini memiliki keunggulan dibanding ketiga tim lain. Jose Mourinho yang memang fokus untuk meraih gelar La Decima terlihat begitu berambisi meraih gelar prestisius tersebut sampai sampai ia wajib duduk di bangku ‘10D’ di setiap pesawat yang ia naiki. Makhlum saja, peluang mereka mempertahankan helar La Liga sudah hampir dipastikan gagal. Menjadi pelatih pertama yang mengangkat trophy “Big Ear” dengan 3 tim berbeda tentu bukan lah prestasi yang biasa biasa saja.

Melihat pertandingan dini hari kemarin, ada satu makhluk yang sepertinya tidak senang dengan apa yang saya asumsikan. Ya, dia merasa kalau ia mampu menjungkir balikkan segala prediksi khalayak banyak. Mungkin saja ia merasa jengkel dengan semua opini masyarakat tentang Mario Gotze yang disinyalir akan melemahkan Dortmund karena Gotze dianggap sebagai motor kebangkitan Dortmund 3 tahun belakangan. Mungkin ia merasa orang orang lupa kalau tanpa gol gol nya mungkin Dortmund tidak akan sampai ke titik dimana mereka berdiri sampai hari ini.

Yup, it’s Robert Lewandowski.


Robert Lewandowski

Namanya yang mulai melambung saat generasi emas Dortmund bangkit bersama dengan Jurgen Klopp memang semakin santer setelah ia mampu membawa Dortmund meraih 2 titel Bundesliga 2 tahun berturut turut. Nuri Sahin, Shinji Kagawa, Mario Gotze, sampai Marko Reus menjadi tandem di belakang Lewandowski dan silih berganti menebar kan terror bagi para lawan mereka dan menebar virus “anti mainstream” bagi para pecinta sepakbola. Borussia Dortmund menjadi tim paling panas di seantero Eropa. Terlebih dengan gaya permainan mereka yang memang cantik dan berdasarkan filosofi sepakbola modern, pressing football.

Quatrrick nya ke gawang Diego Lopez tadi dini hari seakan membuktikan kalau ia memang ingin membuktikan kalau kepergian Mario Gotze ke tim seberang musim depan tidak akan membuat Dortmund kehilangan ketajaman mereka. Atau mungkin ia ingin agar Ferguson sadar bahwa ia memang pantas diboyong ke Old Trafford musim depan. Saya tidak tahu.

Ke empat gol yang ia cetak menunjukkan nalurinya sebagai seorang striker atau predator sejati dalam sepakbola. Jika anda perhatikan, ke empat gol yang ia lesakkan ke gawang Lopez semua ia lakukan tanpa melihat anak gawang di hadapannya. Semua murni ia lakukan hanya dengan melihat bola yang ada di kakinya tanpa terpengaruh akan pressing dari Pepe ataupun Varane yang menjaga nya di sepanjang pertandingan. Positioning nya pun terbilang sempurna untuk gol pertama dan keduanya.

Kontak mata yang tidak dapat dibaca lawan dan nalurinya dalam mencetak gol baru benar saya sadari saat gol dari titik penalti terjadi. Lihat saja bagaimana ia tidak peduli dengan arah tendangan nya dan hanya melihat bola sebelum tendangannya melesat lurus ke atas gawang Diego Lopez. Mungkin Lopez berkata dalam hati “Sweet Mother of God”.

There’s no chance for Lopez to save that shoot. Big applause for Robert Lewandowski.

Memang masih ada 90 menit lagi di Santiago Bernabeu, masih ada kemungkinan Ronaldo mengamuk dan balas mencetak quatrrick diiringi selebrasi heboh dari Jose Mourinho. Akan tetapi, akan sulit rasanya melihat tim asuhan Jurgen Klopp ini menyerah begitu saja tanpa perlawanan berarti. Melihat sepak terjang Dortmund di ajang Champions League tahun ini tanpa rekor kalah sekalipun, plus dengan segala keajaiban mereka dari melewati grup neraka sampai fairytale melawan Malaga, sepertinya Lewandowski dan kompatriotnya akan menginjakkan kaki di tanah suci Wembley Mei mendatang dengan membawa misi bertajuk “Do the Giant Killing”.

Komentar (0 Komentar)
Belum Ada Komentar.

Silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar

Archive Berita Botoligans